10 Maret 2026 superadmin 33
Bantul (MTsN 9 Bantul) – MTsN 9 Bantul menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan di lingkungan pendidikan dengan mengikuti podcast edukasi “Angkringan Pesan Kihajar” yang mengangkat tema penanganan keracunan massal akibat makanan tambahan di satuan pendidikan pada Selasa (10/03/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sebagai bagian dari program literasi dan edukasi keselamatan di sekolah.
Podcast edukatif tersebut menjadi ruang diskusi santai namun berbobot bagi tenaga pendidik dan pengelola satuan pendidikan untuk memahami langkah-langkah cepat dan tepat ketika terjadi kasus keracunan makanan di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai identifikasi gejala awal keracunan, prosedur penanganan darurat, serta pentingnya koordinasi dengan pihak layanan kesehatan.
Kepala MTsN 9 Bantul, Siti Solichah, menyampaikan bahwa partisipasi dalam podcast ini merupakan langkah preventif untuk meningkatkan pengetahuan guru dan tenaga kependidikan terkait keamanan pangan di sekolah. Dengan semakin banyaknya program pemberian makanan tambahan bagi siswa, pemahaman tentang standar keamanan makanan serta penanganan risiko kesehatan menjadi hal yang sangat penting.
Melalui kegiatan Angkringan Pesan Kihajar, para narasumber juga menekankan pentingnya pengawasan kualitas makanan, kebersihan dalam proses pengolahan, serta penyimpanan makanan sesuai standar kesehatan. Selain itu, sekolah diimbau memiliki prosedur tanggap darurat apabila terjadi gejala keracunan massal pada peserta didik.
Guru dan tenaga kependidikan MTsN 9 Bantul yang mengikuti kegiatan ini mengaku memperoleh banyak wawasan baru. Mereka berharap ilmu yang didapatkan dapat diterapkan di lingkungan madrasah guna memastikan keamanan dan kesehatan siswa tetap terjaga.
Partisipasi MTsN 9 Bantul dalam podcast edukasi ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya madrasah dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat, aman, dan responsif terhadap berbagai potensi risiko kesehatan di sekolah. Dengan adanya kegiatan edukatif seperti ini, diharapkan satuan pendidikan semakin siap menghadapi situasi darurat serta mampu memberikan perlindungan terbaik bagi peserta didik. (ds)